Indira Permanasari dan Ester Lince Napitupulu
Tahun ajaran baru selalu
menjadi pengalaman yang menegangkan bagi para orangtua dan memakan begitu besar
energi seluruh keluarga. Sampai kini keadaannya masih tetap sama, tidak
menyenangkan.
Mengapa jadi sesuatu yang
tidak menyenangkan? Karena, dari sisi keuangan keluarga, bulan Juli selalu
menguras uang untuk biaya pendidikan anak. Beban tambah berat karena yang harus
dibiayai biasanya tak cuma satu orang pada waktu yang bersamaan. Lalu,
menjalani jeda waktu berburu sekolah, menunggu "lotre" penerimaan,
dan "perasaan" dipecundangi oleh institusi sekolah karena harus
membayar tinggi, dan pengalaman diperlakukan tak adil karena berbagai faktor
dan keterbatasan.
Komaruddin, warga Bojong
Gede,
Bogor
,
misalnya, sudah tiga hari tidak menjaga kios aksesori telepon selulernya. Pria
itu sibuk mengurusi putrinya yang mencari SMA. Komar ingin putrinya bersekolah
di
Jakarta
,
demikian juga dengan putrinya. Oleh karena itu, Komar rela menumpang kereta
Bogor-Jakarta selama satu jam lebih untuk mencapai SMAN 10 di Jakarta Pusat.
Kamis (12/7) siang, Komaruddin masih menunggu loket pendaftaran yang akan
dibuka lagi pukul 18.00. Ia mencari bangku kosong bagi putrinya. "Saya
mendaftarkan anak saya ke
lima
SMA negeri
pilihan di
Jakarta
.
Yang di
Bogor
malah tidak coba. Saya ingin ia sekolah di
Jakarta
supaya ia tahu situasi di
kota
besar. Nanti kalau kerja, ujung-ujungnya
kan
ke
Jakarta
juga," ujar Komar.
Komar memilih menyekolahkan
putrinya ke SMA negeri untuk menghemat biaya, sebesar Rp 2 juta-Rp 3 juta.
Persoalan biaya jadi momok bagi Komar karena penghasilannya tidak tetap.
Apalagi, putri keduanya pada saat bersamaan masuk jenjang perguruan tinggi.
Komar memasukkan putrinya itu ke jenjang diploma tiga. Untuk kuliah putri
keduanya di perguruan tinggi, ia butuh sekitar Rp 2 juta. Itu pun ia masih
berutang Rp 1 juta.
Mila juga pusing tujuh
keliling karena seorang putrinya harus melanjutkan ke perguruan tinggi dan
seorang lain masuk SMA. Mila juga mencari sekolah negeri. "Tanggung kalau
ke sekolah swasta yang sedang-sedang saja. Kalau ke SMA swasta yang bagus,
mahal sekali. Bisa Rp 16 juta-Rp 20 juta," katanya.
Siang itu, bersama
suaminya, ia tengah mendaftarkan kembali putrinya yang mendapat nilai ujian
nasional (UN) 21,00 ke sejumlah SMA negeri melalui SMAN 70 Jakarta Selatan.
Jika tidak memperoleh sekolah negeri, ia sudah merencanakan mencari SMA swasta
di Ciledug, dekat tempat tinggal mereka. Untuk masuk SMA swasta itu, ia harus
menyiapkan Rp 6.000.000.
Wakil Kepala Humas SMAN 10,
Jakarta, Tuti Sukarni mengatakan, pada dasarnya biaya pendidikan atau iuran
peserta didik baru (IPDB) merupakan hasil kesepakatan antara Komite Sekolah dan
orangtua murid. Selama dua tahun terakhir IPDB di SMAN 10 itu Rp 2.750.000
dengan iuran bulanan sebesar Rp 150.000. Itu sudah termasuk pelajaran Bahasa
Jepang dan Mandarin. Namun, bagi anak yang tidak mampu, sekolah dapat memberi
keringanan dan bantuan sehingga tidak perlu khawatir.
Kesadaran betapa
berharganya pendidikan untuk bekal masa depan anak telah tumbuh dalam
masyarakat. Namun, dengan hambatan biaya dan riuhnya persaingan membuat bulan
Juli sebagai bulan penuh kebingungan. Meski, rasa cinta pada buah hati tak bisa
dimungkiri….
Cici (45), warga Tanjung
Priok, Jakarta Utara, dengan sabar menunggui anak bungsunya, Sri Handini (16),
memanfaatkan peluang terakhir pendaftaran ke SMA negeri di DKI Jakarta. Harapan
ibu tiga anak ini begitu besar supaya anak perempuannya ini bisa menamatkan
SMA.
Sebenarnya, Cici sudah
meminta dengan berat hati supaya Sri yang lulus dengan nilai UN 22,60 berhenti
sekolah. Beban keluarga yang mengandalkan nafkah ayah sebagai tukang servis jam
dan Cici yang berjualan makanan di Terminal Pulo Gadung terasa begitu berat.
Buat keluarga dengan
penghasilan sekitar Rp 40.000 per hari ini, menyekolahkan anak berarti hidup
dengan utang ke sana-kemari. Yang sering mengganggu, dua anak Cici yang tamat
SMK dan sekolah menengah ilmu pariwisata (SMIP) sampai saat ini menganggur.
Yus (50), warga Kampung
Melayu, Jakarta Timur, juga tetap berharap pada SMA negeri untuk anak
bungsunya, Arif (16). Namun, peluang Arif masuk SMA negeri tidak jauh dari
tempat tinggalnya kandas di gelombang pertama. Harapan tersisa di gelombang
kedua. Pilihan yang tersisa adalah SMA negeri yang sangat jauh, yaitu di Kelapa
Gading, Jakarta Utara. Untuk memasukkan ke SMA swasta yang bermutu sedang saja,
butuh Rp 4 juta dengan uang bulanan Rp 300.000.
Pendapatan suami yang
bekerja di restoran dan Yus yang berjualan di pasar yang sebesar Rp 2,5 juta
per bulan seakan tidak ada artinya. Yus juga harus memberi tambahan biaya untuk
kuliah anak ketiganya. Salah satu anak lelakinya, usai tamat SMA, terpaksa
mengubur mimpi untuk kuliah dan bekerja karena Yus tak punya biaya. Untung,
anaknya bisa mengumpulkan Rp 7 juta untuk persiapan masuk kuliah.
Kisah Cici dan Yus dialami
banyak keluarga yang mendambakan bisa memberi bekal pendidikan yang layak buat
sang buah hati.
Semangat para orangtua
untuk menyekolahkan anak-anak seharusnya "gayung bersambut" dengan
respons dan kebijakan pemerintah untuk membuat pendidikan murah dan terjangkau.
Negara
kan
bertanggung jawab mendidik dan mencerdaskan warganya…