ARTI 14 Februari…Masih merayakan?

Valentinus,
adalah USKUP yang hidup diabad ketiga di Roma. Ia dijebloskan kepenjara
oleh Kaisar Claidius II ( penganut penyembahan dewa-dewi ); sebab ia
beragama Kristen ( yang dimusuhi ) menikahkan banyak pasangan muda
secara diam2. Kenapa????? Karena pada masa itu, Kaisar Romawi (Claudius
II) yang ingin mengembangkan sayapnya mengharuskan para pria lajang
bergabung dalam bala tentara Roma. Karena ambisi Claudius, akhirnya
pernikahan pun tidak diizinkan sehingga lebih banyak lelaki pergi
berperang!!!!!!!Valentinus juga dikenal dapat menyembuhkan berbagai
penyakit, oleh karena itu didalam penjara dia diminta menyembuhkan
putri sipir penjara yang buta sejak lahir yang bernama Julia. Sambil
mengobati, Valentinus mengajarkan sejarah dan menjelaskan dunia semesta
hingga Julia dapat merasakan makna dan kebijaksanaannya lewat pelajaran
itu. Hingga tiba saat
hukuman mati untuk Valentinus. Valentinus tidak sempat mengucapkan
perpisahan dengan Julia. Segera ia menuliskan ucapan dengan pesan untuk
semakin dekat dengan Tuhan. Diakhiri dengan kata ‘ dengan cinta dari Valentine-mu’. Ia meninggal 14 Pebruari. Keesokan
harinya, Julia menerima surat ini. Saat membuka surat, ia dapat melihat
huruf dan warna-warni yang baru pertama kali dilihatnya. Julia sembuh dari kebutaan.
Valentinus dimakamkan di gereja Praksedes Roma. Pada
tahun 496 (hampir dua setengah abad stelah Valentine mati) Paus
Gelasius I menyatakan 14 pebruari sebagai hari peringatan St. Valentinus
.

DALAM
masyarakat kita, pihak yang dianggap kuat adalah kaum lelaki. Jiwa
kepahlawanan sering dikaitkan pada kaum lelaki. Dongeng anak-anak penuh
cerita pangeran menyelamatkan putri jelita. Pola yang diulang-ulang dan
dapat dijumpai pada kisah populer remaja yang hampir tidak lepas dari
gambaran pria yang melindungi. Perempuanlah yang butuh dilindungi,
perempuanlah yang butuh disedekahi.

Kerapuhan
dan ketakutan perempuan terkadang amat dinikmati lelaki. Berapa banyak
lelaki yang dibuat bahagia jika kekasih mereka menjerit ketakutan saat
menonton film horor atau saat naik piring terbang di Dufan, Ancol, atau
di Taman Remaja Surabaya?

Gambaran
ini tak jauh dari perayaan hari Valentine saat ini. Pemberian hadiah
khusus mengingatkan kita pada kemurahan hati para pria, sedangkan
perempuan adalah pihak yang menerima. Dalam beberapa artikel dan iklan
kado Valentine sering disebut bagaimana membuat wanita tersanjung,
yaitu dengan coklat, boneka, atau bunga.

Tidak
jauh dari gambaran bahwa perempuan dapat tersanjung dengan materi dan
diberi, sedangkan pria hanya dapat tersanjung oleh hal-hal yang lebih
bermanfaat, berguna bagi masyarakat. Tidak jauh dari persepsi bahwa
tanggung jawab perempuan adalah keluarga dan rumah tangganya, sedangkan
tanggung jawab lelaki adalah pada masyarakat dan dunia. Boneka Pluto
atau coklat bentuk bunga akan menjadi bahan tertawaan para pria jika
kita mencoba menyanjung mereka dengan cara demikian.

Hadiah
Valentine menguatkan kepercayaan bahwa perempuan adalah makhluk
sederhana yang dapat dibahagiakan dengan barang sepele dan imut-imut.
Pada iklan yang terpampang pada surat elektronik perempuan@yahoogroups.com, hal ini juga dapat dijumpai. Beginilah iklan tersebut:

"Seakan-akan
perempuan adalah makhluk yang menerima dan kalau perlu merengek seperti
anak kecil untuk diberi kado. Karena itulah, perempuan membutuhkan
pengakuan dari lelaki. Sedangkan lelaki biasanya menghendaki pengakuan
dari lelaki lainnya karena perempuan dianggap makhluk yang kekanakannya
dapat menyenangkan hati lelaki. Perempuanlah yang menunggu “sedekah”
dan dikasihani, sedangkan lelakilah yang menilai. Pemilihan hadiah pun
bukannya untuk perempuan semata-mata, tetapi juga sebagai pemuas sang
pria (underwear seksi).
Seakan, kebahagiaan perempuan adalah saat mereka memuaskan mata lelaki".

Berapa
banyaknya voting yang ditujukan pada lelaki dengan obyek tubuh dan
wajah perempuan? Misalnya: siapakah yang lebih seksi, Yuni Shara atau
Krisdayanti? Atau siapakah yang Anda pilih sebagai pacar Anda: Sophia
Latjuba atau Tracy Trinita?

TRADISI
kepahlawanan para pria begitu kuatnya sehingga terdapat begitu banyak
ganjalan ketika beberapa perempuan mencoba berjuang mempunyai pengakuan
sendiri, keyakinan sendiri, suara sendiri akan tubuh dan seksualitas
mereka.

Saat para feminis mencoba mengubah peringatan Valentine ini, perjuangan mereka pun mendapat kecaman. Valentine?s Day disebut sebagai V-Day atau Vagina Day atau Victory Day oleh beberapa feminis yang diilhami teater Eve Ensler, Vagina Monologue, yang sudah dipentaskan di

Indonesia

. Dalam arti, Valentine’s Day adalah hari kemenangan vagina.

Valentine?s Day bagi beberapa perempuan ini tidak lagi dipenuhi wajah perempuan yang harus tersipu malu ketika diberi bunga atau boneka. Ketika para perempuan tidak saja bertahan, namun bertindak dan berjuang.

Tiba-tiba
saja hal ini begitu menakutkan. Beberapa kelompok pun mengajukan protes
untuk mengembalikan hari Valentine tradisional mereka: “kembalikan hari Valentine kami”.

Namun,
bukankah jiwa kepahlawanan yang sesungguhnya adalah saat pihak yang
dianggap lemah telah dapat mandiri? Bukankah pahlawan yang sejati
adalah figur yang rela berkorban dan bukannya menertawakan saat pihak
yang dianggap lemah menjadi ketakutan?

Jika
tiba-tiba saja beberapa lelaki merasa terancam ketika para perempuan
menuntut hak dan kontrol akan tubuh dan seksualitas mereka sendiri,
bukankah gembar-gembor kepahlawanan beberapa lelakikah yang sepatutnya
dipertanyakan?
Karena, terkadang jiwa kepahlawanan hanyalah ambisi.

Dan
dalam ambisi demikian, apabila pihak yang dianggap lemah ternyata tidak
lagi menjadi lemah, bagaimana para pahlawan ini dapat menjadi pahlawan
lagi?
Haruskah kita merayakan valentine ?
Tentunya anda punya jawabannya, sudah.
Mudah mudahan bermanfaat.

Leave a Reply